Parametamor
Parametamor
Indah Puspitasari
“We
are all butterflies. Earth is our chrysalis.” – LeeAnn Taylor
Kupu-kupu. Salah satu hewan indah yang memanjakan
mata siapa pun yang memandangnya. Pernahkah kalian mendengar kisah tentang metamorfosis
kupu-kupu yang dibantu seorang anak? Jika belum, akan kucoba ceritakan sedikit.
Suatu hari, ada seorang anak yang sedang
memperhatikan kepompong di taman. Ternyata di dalam kepompong itu ada seekor
kupu-kupu yang sedang berjuang melepaskan diri. Anak itu merasa kasihan karena
perjuangan kupu-kupu terlihat begitu sulit. Kemudian karena ingin membantunya,
si anak itu akhirnya mengambil gunting dan membantu merobek dinding kepompong
agar kupu-kupu bisa segera keluar dari sana. Lalu apa yang terjadi? Kupu-kupu
memang keluar dari sana, namun tidak dapat terbang, hanya dapat merayap.
Mengapa bisa begitu? Hal itu terjadi karena seharusnya dalam proses pelepasan
diri dari kepompong itu, saat kupu-kupu mengerahkan seluruh tenaga yang ia
miliki akan ada cairan yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang
membantu mengembangkan sayapnya, sehingga ia dapat terbang. Namun, karena tadi
ia tidak mengalami perjuangan tersebut, maka ia keluar sebagai kupu-kupu yang
tidak dapat terbang.
Dari kisah ini, pikiranku melayang kembali ke beberapa
tahun lalu. Saat aku baru mengenal Parama. Saat aku masih menjadi “dia”.
Dia adalah seorang gadis muda naif yang pertama
kali menginjakkan kaki di dunia kerja. Takdir membawanya bekerja di sebuah
perusahaan yang sudah lama diincarnya, Parama. Senang bukan main hatinya. Pertama
kalinya terjun ke dunia nyata. Pastinya, dia berdoa agar segalanya menjadi
mudah baginya. Berharap dia bisa melewati semua hari-harinya tanpa kesulitan
sedikit pun. Berharap setiap hari menjadi hari yang tenang, tanpa lonjakan
adrenalin, tanpa hujan, tanpa badai, hanya ada hari yang cerah dipenuhi
senyuman. Sungguh naif, bukan?
Allah Maha Baik, tidak memberikan apa yang gadis
itu inginkan, tapi apa yang ia butuhkan.
Parama menjadi medan perang baginya. Di Parama, ia
banyak belajar tentang kegagalan, kekecewaan, kehilangan. Bukan hanya dari
pengalamannya sendiri, tapi juga dari orang-orang di sekitarnya. Awalnya dia
sedih karena keadaan tidak seperti kisah dongeng harapannya. Di mana langit
biru yang tak pernah mendung? Di mana ibu peri dan semua keajaiban dalam
semalam? Tak sekali ia ingin menyerah dan mengembalikan dirinya ke zona
nyamannya. Namun, ia memilih untuk terus berjuang karena ingin menjadi
kupu-kupu yang bisa terbang.
Kutersenyum melihat cermin di dinding. Tak
kusangka gadis itu bisa berubah menjadi seperti ini. Sekarang, gadis itu sudah tiada.
Dia telah berubah menjadi aku yang sekarang. Aku yang lebih optimis. Aku yang
lebih percaya diri. Aku yang lebih berani. Aku yang tidak takut dengan kesulitan
dan siap menghadapinya.
Satu hal yang terus kugenggam dalam setiap
masalah, “jika keadaan menjadi sulit, ingatlah. Ini adalah bagian dari metamorfosismu.
Sakit memang. Namun jika terus mengerahkan kekuatan, kau akan keluar dari
masalah ini dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.”
“Even
now, I still believe metamorphosis is the greatest beauty.” – David Vann
Setuju. Dan metamorfosisku di Parama adalah hal
indah yang akan selalu kuingat.
Komentar
Posting Komentar