Kepiting yang Nyaring
“Kayaknya lu punya crab mentality deh, Beb. Nggak baik, hei...”
Aku menengok ke belakang untuk mendengar asal
muasal kalimat tersebut. Ternyata kata-kata itu dilontarkan oleh seorang wanita
kepada temannya yang sedang tertunduk lemas. Tak lama, mereka pun berlalu
melewatiku. Kulihat paras mereka. Keduanya cantik, berambut panjang terawat,
tinggi semampai, ditambah high heels,
blouse dan rok khas perkantoran Jakarta.
Menarik.
Bukan paras kedua wanita itu maksudku yang menarik.
Yang membuatku teralih adalah hal yang sedang mereka bicarakan. Crab mentality.
Istilah ini tidak sering kudengar. Namun beberapa
tahun lalu, seseorang pernah menjelaskannya kepadaku.
Dalam bahasa Indonesia, crab mentality bisa diartikan sebagai mentalitas kepiting, atau
lebih spesifik lagi: mentalitas kepiting di dalam ember. Istilah ini diambil
dari sebuah fenomena saat beberapa ekor kepiting diletakkan bersama di dalam
ember atau baskom. Apa yang akan terjadi jika ada kepiting yang berusaha
keluar? Apakah kepiting lain akan membantunya? Sayangnya tidak. Ketika salah
satu kepiting berusaha untuk keluar dari ember tersebut maka kepiting lainnya
akan menariknya untuk mencegahnya keluar. Dalam ilmu psikologi, hal ini dianalogikan
sebagai sifat egois yang tidak suka akan
kesuksesan orang lain dan berusaha untuk menghambatnya. Motto yang dimiliki
oleh orang bermental ini adalah, “jika aku tidak bisa memilikinya, maka kamu
pun tak bisa.”
Menakutkan. Tapi faktanya, di kehidupan nyata sifat
seperti ini memang nyata adanya. Akan selalu ada orang yang tidak ikut bertepuk
tangan dalam kesuksesan kita.
Dulu, jika ini terjadi padaku, aku akan selalu
bertanya-tanya, “mengapa aku?”, “apa yang salah denganku”, “mengapa ia
membenciku?” Namun sekarang aku tahu, masalahnya bukan ada pada diriku, namun
pada diri si pembenci. Penyebabnya bisa apa saja, kecemburuan, rasa malu,
dendam, harga diri yang rendah, hingga rasa kompetitif itu sendiri, sehingga
mengingkan agar kita terus berada di level yang sama dengan dirinya.
Aku menoleh lagi memperhatikan kedua wanita itu.
Kusunggingkan senyum tipis. Sebuah tanda terima kasih dariku karena tanpa
sengaja mereka telah mengingatkanku untuk refleksi diri. Crab mentality dapat terjadi pada siapapun dan dalam kondisi
apapun. Kita bisa saja secara tidak sadar telah menjadi bagian dari orang yang
mengalaminya atau mungkin orang yang terkena dampaknya. Hal ini mengingatkanku
untuk lebih selektif memilih kelompok pertemanan dan harusnya menjadikan
kesuksesan orang lain sebagai motivasiku.
Setiap orang tentu berhak memiliki keberhasilan
dalam hidupnya. Daripada sibuk menjatuhkan orang lain, lebih baik memacu
diri kita untuk jadi lebih baik lagi. Maka kita jangan jadi kepiting. Kalaupun ada
kepiting yang nyaring, abaikan saja.

Komentar
Posting Komentar