Tidak Kembali
“Anda dapat memutar mundur jam, namun Anda tidak dapat mengulangi waktu yang telah terlewatkan.” – Bonnie Prudden
Iya.Mau berusaha sekeras apapun, kita tak akan bisa
punya 25 jam dalam sehari. Mungkin orang kaya bisa membeli jam yang lebih bagus
dan lebih banyak, tapi tetap tidak bisa membeli waktu yang lebih banyak.
Ilmuwan pun tak akan bisa menciptakan menit-menit baru. Kita juga tidak bisa
menabung waktu di hari ini untuk dipakai di hari lain. Semua orang punya hak
yang sama atas waktu. Semuanya punya jumlah jam dan menit yang sama dalam
sehari. Yang membedakannya adalah bagaimana kita menggunakannya.
Pernahkah kamu menyesal menggunakan waktumu?
Jika ditanya pertanyaan itu, ada banyak hal yang
terlintas di benakku. Aku dan segala
overthinkingku sering kali menyesali hal yang telah terlewati. Terkadang
aku merasa melakukan sesuatu dengan kurang sempurna. Misalnya, ketika selesai
melakukan presentasi, atau ketika menyelesaikan suatu tugas, saat melihat lagi
ke belakang terkadang aku memikirkan, “ah, kenapa saat itu aku melakukannya
seperti itu? Seharusnya begini.”
Namun, dibandingkan dengan menyesali hal yang
telah kulakukan, lebih menyakitkan menyesali hal-hal yang tidak aku lakukan.
Ah, lagi-lagi kuingat dia.
Setiap mengingatnya, ada perasaan kuat yang membawaku
kembali ke satu titik dalam perjalanan hidupku. Titik kebodohan. Mengapa dulu
kusia-siakan perasaan yang dia berikan dengan tulus kepadaku hanya karena
keraguan di dalam hati yang tidak bisa berpadu? Mengapa dulu tidak kucoba
yakinkan hatiku bahwa mungkin memang dia separuh jiwaku? Mengapa pada saat itu
malah kubiarkan egoku yang memenangkan pertarungan dengan mudahnya? Well, it was me and my stupid pride.
Egoku menutup jalan bagi kami untuk bersatu. Dan dia, dengan sisa-sisa
tenaganya, akhirnya meninggalkanku ke pulau seberang. Menutup cerita kami
sesuai jalan yang kubuat sendiri.
***
Gawaiku berdering. Sebuah pesan masuk darinya.
“Aku sudah sampai nih, kamu di mana?”
Setelah membaca kalimat singkat itu, seketika aku
berdiri, memandang jauh ke pintu masuk. Kutangkap sosoknya yang berjalan ke
arahku, dan akupun melambai. Dia tersenyum padaku, masih dengan senyum tulusnya
yang tak pernah berubah.
“Halo, istriku,” sapanya.
Kubalas dengan senyum termanisku.
Takdir memang mengagumkan. Sejauh apapun kau
berusaha menghindar, sebodoh apapun keputusan yang kaubuat, akan selalu ada
jalan yang indah yang mengembalikanmu pada takdir yang seharusnya. Maka jangan
pernah menyerah dan teruslah mengirimkan doa kepada sang pemilik takdir. Setelah
tahun-tahun berlalu hampa dengan jalan pilihan kami masing-masing. Tetap saja
kapalku dan kapalnya berlabuh di sebuah pelaminan.
Kusodorkan padanya kotak yang sedari tadi
kugenggam rapi. Tanpa aba-aba dia pun langsung membukanya dengan penuh
semangat.
“Wah, jam tangan,” serunya.
Kutatap sosok yang sekarang duduk tegak di
hadapanku ini. Jika aku diberi kesempatan untuk memutar balik waktu, ada
beberapa hal kecil yang mungkin kuubah. Mungkin akan kuubah segala keputusan
bodoh yang kubuat dulu.
Atau mungkin tidak?
Karena justru kombinasi dari semua peristiwa itulah yang
menghantarkanku pada titik ini, kan?
Biarlah sesalku kemarin menjadi syukurku di hari ini. :)

πππ
BalasHapus